MAKALAH KEGAWATDARURATAN MATERNAL NEONATAL
(PROSEDUR VAKUM DAN FORSEP)
![]() |
DISUSUN OLEH:
Endang Rosita As
Siti Umayyah
Veliana Fransiska
AKADEMI KEBIDANAN
NGUDIA HUSADA MADURA
2015-2016
BAB 1
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Setiap
wanita menginginkan persalinan berjalan lancar dan melahirkan bayi yang
sempurna (Kasdu, 2003 : iii). Hal ini sesuai dengan Rencana Strategis Nasional
yang terdapat dalam pesan kunci Making Pregnancy Safer (MPS) yaitu : setiap
persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetrik
dan neonatal mendapatkan pelayanan yang adekuat (Koesno, 2004 : 3 ). Namun,
tidak jarang proses persalinan mengalami hambatan dan memerlukan penanganan
dengan ekstraksi vakum.
Ekstraksi vakum merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi (Saifuddin, 2002 : 494). Tindakan ini dilakukan untuk semua keadaan yang mengancam ibu dan janin yang memiliki indikasi untuk menjalani pelahiran pervaginam dengan bantuan alat (Hartanto, 2005 : 536). Indikasi dan syarat dari tindakan ini antara lain : pada palpasi abdomen kepala tidak teraba (0/5) atau teraba (1/5) sedangkan pembukaan sudah lengkap, keterlambatan pada kala II yaitu lebih dari 60 menit pada primigravida dan 30 menit pada multigravida, dan Ibu yang menderita kelainan atau penyakit yang melarangnya untuk mengeran (mengedan), misalnya pada penyakit jantung, hipertensi, asma, atau tuberkulosis berat (Depkes RI, 1995 : 6).
Ekstraksi vakum merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi (Saifuddin, 2002 : 494). Tindakan ini dilakukan untuk semua keadaan yang mengancam ibu dan janin yang memiliki indikasi untuk menjalani pelahiran pervaginam dengan bantuan alat (Hartanto, 2005 : 536). Indikasi dan syarat dari tindakan ini antara lain : pada palpasi abdomen kepala tidak teraba (0/5) atau teraba (1/5) sedangkan pembukaan sudah lengkap, keterlambatan pada kala II yaitu lebih dari 60 menit pada primigravida dan 30 menit pada multigravida, dan Ibu yang menderita kelainan atau penyakit yang melarangnya untuk mengeran (mengedan), misalnya pada penyakit jantung, hipertensi, asma, atau tuberkulosis berat (Depkes RI, 1995 : 6).
B.
Rumusan
masalah
1. Apa
vakum dan forsep?
2. Bagaimana
prosedur vakum dan forsep?
C.
Tujuan
1. Mengetahui
Apa vakum dan forsep
2. Mengetahui
Bagaimana prosedur vakum dan forsep
BAB II
PEMBAHASAN
A. EKSTRAKSI
VAKUM
1. Definisi
Ekstraksi
vakum adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan secara ekstraksi
dengan ekstraksi tenaga negatif ( vakum ) pada kepalanya. Alat ini dinamakan
ekstraktor vakum atau ventouse.
2. Sejarah
Gagasan
untuk melahirkan kepala janin dengan memakai tenaga vakum, mula-mula dipelajari
oleh young (1706) dari inggris yang kemudian secara berturut-turut dikembangkan
oleh ahli-ahli obstetri dinegara eropa dalam bentuk yang bermacam-macam.bentuk
ekstraktor vakum yang bermacam-macamini ternyata kurang populer dalam
pemakaiannya, karena banyak hambatan-hambatan tehnik. Akhirnya pada tahun 1952
sampai 1954 tage malmstrom dari gothenburg swedia,menciptakan ekstraktor vakum
yang setelah mengalamipercobaan-percobaan dan modifikasi dalam bentuknya, sejak
tahun 1956 menjadi sangat populer dipakai dalamklinik-klinik obstetri sampai
saat ini.
3.
![]() |
Bentuk dan bagian-bagian ekstraktor vakum
a.
|
Bagian yang dipakai untuk membuat
caput suksedenum artifisialis dengan mangkuk inilah kepala di ekstraksi
diameter mangkuk : 3,4,5,6 cm.pada dinding belakang mangkuk terdapat tonjolan
untuk tanda letak denominator.
b.
Botol
Tempat membuat tenaga negatif
atau vakum. Pada tutup botol terdapat manometer, saluran menuju ke pompa
penghisap, dan saluran menuju ke mangkuk yang dilengkapi dengan pentil.
c.
karet
penghubung
d.
rantai
penghubung antara mangkuk dengan pemegang
e.
pemegang
(extruction handle )
f.
pompa
penghisap ( vakum pump)
4.
Indikasi
Ibu
1.
Untuk
memperpendek kala 2 misalnya
a. Penyakit jantung kompensata
b. Penyakit paru-paru fibrotik
2.
Waktu:
kala II yang memanjang
Janin
1.
Gawat
janin ( masih kontroversi )
5.
Indikasi kontra
Ibu
1.
Ruptura
uteri membakat
2.
Pada
penyakit-penyakit dimana ibu secara mutlak tidak boleh mengejan misalnya payah
jantung, PEB
JANIN
1.
Letak
muka
2.
After
coming head
3.
Janin
preterm
6.
Syarat
a.
Syarat-syarat
ekstraksi vakum sama denagan ekstraksi cunam,hanya disini syarta lebih luas,
yaitu
·
Pembukaan
lebih dari 7 cm ( hanya pada multi gravida )
·
Penurunan
kepala janin boleh pada hodge 2
b.
Hanya
ada kontraksi rahim dan ada tenaga mengejan
7.
Prosedur
a.
Ibu
tidur dalam posisi litotomi
b.
Pada
dasarnya tidak diperlukan narkosis umum. Bila pada waktu pemasangan mangkuk ibu
mengeluh nyeri dapat diberi anastesia infiltrasi atau pudendal nerve block.
Apabila dengan cara ini tidak berhasil boleh diberi anastesia inhalasi, namun
hanya terbatas pada waktu memasang mangkuk saja
c.
![]() |
|||
![]() |
|||
Setelah semua bagian-bagian ekstraktor vakum terpasang maka dipilih mangkuk yang sesuai dengan pembukaan serviks. Pada pembukaan serviks lengkap biasanya dipakai mangkuk no.5. mangkuk dimasukkan ke dalam vagina dengan posisi miring dan dipasang pada bagian terendah kepala, menjauhi ubun-ubun besar. Tonjolan pada mangkuk,diletakkan sesuai dengan
letak
denominator.
|
|
||||
d.
Dilakukan
penghisapan denagn pompa penghisap dengan tenaga medis – 0.2 kg/cm dengan
interval 2 menit. Tenaga vakum yang diperlukan ialah : - 0.7 sampai – 0.8 kg/cm
ini membutuhkan waktu kurang lebih 6-8 menitdengan adanya tenaga negatif ini,
maka pada mangkuk akan terbentuk caput suksedenum artifisialis ( chignon ).
e.
Sebelum
memulai melakukan traksi, dilakukan periksa dalam ulang, apakah ada
bagian-bagian jalan lahir yang ikut terjepit
f.
|
![]() |
g.
![]() |
Ibu jari dari telunjuk tangan kiri menahan mangkuk, sedang tangan kanan melakukan tarikan dengan memegang pada pemegang. Maksud tangan kiri menahan mangkuk ialah agar mangkuk selalu dalam posisi yang benar bila sewaktu-waktu mangkuk lepas, maka mangkuk tidak akan meloncat ke arah muka penolong.
h.
Traksi dilakukan terus selama ada his dan
harus mengikuti putaran paksi dalam, sampai akhirnya suboksikut berada dibawah
simpisis bila his berhenti maka traksi juga dihentikan berarti traksi
dikerjakan secara intermitten bersama-sama dengan his
i.
Kepala
janin dilahirkan dengan menarik mangkuk ke arah atas, sehingga kepala janin
melakukan gerakan defleksi dengan suboksikut sebagai hipomokhlion. Padawaktu
kepala melakukan gerakan defleksi ini, maka tangan kiri penolong segera menahan
perineum. Setelah kepala lahir, pentil dibuka, udara masuk ke dalam botol
tekanan negatif menjadi hilang, dan mangkuk dilepas
j.
Bila
diperlukan episiotomi, maka dikukan sebelum pemasangan mangkuk atau pada waktu
kepalamembuka vulva
8. Kriteria
ekstraksi vakum gagal
1.
Waktu
di lakukan traksi , mangkuk terlepas sebanyak 3 kali
Mangkuk
lepas pada waktu traksi , kemungkinan di sebabkan :
a.
Tenaga
vakum terlalu rendah
b.
Tekanan
negatif di buat terlalu cepat sehingga
tidak terbentuk kaput succedeneum yang sempurna yang mengisi seluruh mangkuk
c.
Selaput
ketuban melekat antara kulit kepala dan mangkuk .sehingga mangkuk tidak dapat
mencengkam dengan baik
d.
Bagian
– bagian jalan lahir ( vagina,serviks) ada yang terjepit kedalam mangkuk
e.
Kedua
tangan kiri dan tangan kanan penolong tidak bekerja sama dengan baik
f.
Traksi
terlalu kuat
g.
Cacat (derfect) pada alat ,misalnya kebocoran pada
karet saluran penghubung .
h.
Adanya
disproporsi sefalo-pelvik . setiap mangkuk lepas pada waktu traksi harus di
teliti satu persatu kemungkinan kemungkinan di atas dan di usahakan melakukan
koreksi.
2.
Dalam
waktu setengah jam di lakukan traksi janin tidak lahir
9. Komplikasi
Ibu
1.
Perdarahan
2.
Trauma
jalan lahir
3.
Infeksi
Janin
1.
Ekskoriasi
kulit kepala
2.
Sefal
hematoma
3.
Subgaleal
hematoma.hematoma ini cepat di resorbsi tubuh janin.bagi janin yang mempunyai
fungsi hepar belum matur dapat menimbulkan ikterus neonaturum yang agak berat
4.
|
![]() |
Nekrosis kulit kepala (scalpnecrosis) yang dapat menimbulkan alopesia
10. Keunggulan
ekstraksi vakum di bandingkan ekstraksi cunam
a.
Pemasangan
mudah (mengurangi bahaya trauma dan infeksi )
b.
Tidak
di perlukan narkosis umum
c.
Mangkuk
tidak menambah besar ukuran kepala yangharus melalui jalan lahir
d.
Ekstraksi
vakum dapat di pakai pada kepala yang masih tinggi dan pembukaan serviks belum lengkap
e.
Trauma
pada kepala janin lebih ringan
11. Kerugian
ekstraksi vakum di bandingkan dengan cunam
a.
Persalinan
janin memerlukan waktu yang lebih lama
b.
Teanaga
traksi tidak sekuat seperti pada cunam.sebenarnya halini di anggap sebagai
keuntungan , karena kepala janin terlindung dari traksi tenaga yang berlebihan
c.
Pemeliharaannya
lebih sukar karena bagian bagiannya
banyak terbuat dari karet dan harus selalu kedap udara
B. EKSTRAKSI
CUNAM
1. Definisi
Suatu
persalinan buatan dimana janin di lahirkan dengan suatu tarikan cunam yang di
pasang pada kepalanya
2. Bentuk
dan bagian-bagian cunam
1.
![]() |
Sepasang cunam terdiri dari 2 sendo, yaitu sendok kiri dan sendok kanan. Sendok kiri ialah sendok yang dipegang oleh tangan kiri dan diletakkan disebelah kiri panggul ibu. Sendok kanan ialah sendok yang dipegang oleh tangan kanan diletakkan disebelah kanan panggul ibu.
2.
Sendok
cunam mempunyai bagian-bagian sebagai berikut
a.
Daun
cunam. Bagian yang dipakai untuk mencengkam kepala janin. Umumnya mempunyai 2
lengkungan yaitu lengkungan panggul ( pelvic curve ) ialah lengkungan daun
cunam yang disesuaikan dengan lengkungan panggul dan lengkungan kepala (
cephalic curve ) ialah lengkungan kepala janin.
Contoh dan cunam yang mempunyai
lengkungan panggul dan lengkungan kepalaialah cunam naegele dan cunamsimpson.
Ada suatu bentuklain daun cunam yang tidak mempunyai lengkungan panggul dan
hanya mempunyai lengkungan kepala saja yaitu pada cunam kjelland.
Daun cunam dapat berlubang ( fenestra
) misalnya cunam simpson dan cunam naegele dan solid mislnya cunam tucker Mc.
Lane. Daun cunam yang solid dapat mencekam kepaladengan lebih kuat
b.
Tangkai
cunam ( shank ) bagian antara daun dan kunci cunam. Terdiri 2 macam : tangkai
terbuka , tangkai tertutup
c.
Kunci
cunam ( lock )
Terdiri
dari:
Kunci
prancis : tangkai cunam dipersilangkan
kemudian disekrup
kunci
inggris : kedua tangkai cunam disilangkan
dan dikunci dengan
kait mengkait (interlocking)
misalnya cunam naegele
Kunci jerman : bentuk kunci cunam yang
merupakan kombinasi antara
bentuk kunci prancis dan kunci
inggris misalnya cunam
simpson
Kunci norwegia:bentuk kunci cunam yang dapat
diluncurkan ( sleeding
look
) misalnya cunam kjelland
d.
Pemegang
cunam ( handle ) bagian yang dipakai memegang pada waktu ekstraksi
Jenis
cunam berdasarkan bentuknya.
1.
Tipe
simpson. Bentuk cunam ini mempunyai tangkai cunam yang terbuka, sehingga
lengkungan kepala lebih mendatar dan lebih besar bentuk cunam ini baik untuk
kepala janin yang sudah mengalami molase
2.
Tipe
elliot. Bentuk cunam ini mempunyai tangkai yang tertutup, sehingga lengkungan
kepala lebih bundar dan lebih sempit cunam ini baik untuk kepala yang bundar
dan belum mengalami molase
3.
![]() |
Tipe khusus. Ada bentuk khusus cunam misalnya: cunam piper yang dipakai untuk melahirkan kepala janin pada letak sungsang
3.
Fungsi cunam
Fungsi cunam yang sampai sekarang
masih berlaku ialah: 1) Ekstraktor, 2) Rotator, 3) Ekstraktor dan rotator
bersama-sama. Pemilihan jenis cunam yang akan dipakai hendaknya disesuaikan
dengan fungsi cunam.
a. Pembagian
pemakaian cunam
Berdasarkan
penurunan kepala didalam panggul, maka ekstraksi cunam dibagi menjadi
1.
Cunam
tinggi ( high forcept) ekstraksi cunam dimana kepala masih diatas PAP (
floating head ) ekstraksi cunam tinggi dapat menimbulkan trauma yang berat
untuk ibu maupun janinnya pleh karena itu, cara ini sudah tidak dipakai lagi
dan diganti dengan SC
2.
Cunam
tengah ( mid forcept ) ekstraksi cunam yang tidak memenuhi kriteria cunam
tinggi maupun cunam rendah, tetapi kepala sudah cakap ( mencapai letak =
engaged ) pada ekstraksi cunam tengah, fungsi cunam ialah ekstraksi dan rotasi,
karena harus mengikuti gerakan putaran paksi dalam. Sekarang ekstraksi cunam
tengah sudah jarang dipakai lagi dan diganti dengan ektraksi vakum dan SC
3.
Cunam
rendah ( low forcept = outlet forcept ).
Ektraksi cunam dimana kepala sudah mencapai PBP dan sutura sagitalis sudah
dalam antero-
![]() |
posterior. Sampai sekarang pemasangan cunam jenis ini paling sering dipakai.
|
4. Indikasi
a. Indikasi
relatif ( elektif, profilaktif )
1.
Ekstraksi
cunam yang bila dikerjakan akan menguntungkan ibu atau pun janinnya, tetapi
bila tidak dikerjakan, tidak akan merugikan, sebab bila dibiarkan, diharapkan
janin akan lahir dalam 15 menit berikutnya
2.
Indikasi
relatif dibagi menjadi :
a.
Indikasi
de lee. Ekstraksi cunam dengan syarat kepala sudah didasar panggul putaran
paksi dalam sudah sempurna. Levator ani sudah teregang dan syarat-syarat
ekstraksi cunam lainnya sudah dipenuhi. Ekstraksi cunam atas indikasi elektif,
dinegara-negara barat sekarang banyak dikerjakan, karena di negara-negara
tersebut banyak dipakai anastesia atau konduction analgesia guna mengurangi
nyeri dalam persalinan. Anastesia dan konduction analgesia menghilangkan tenaga
mengejan, sehingga persalinan harus diakhiri dengan ekstraksi cunam
b.
Indikasi
pinard. Ekstraksi cunam yang mempunyai syarat sama dengan indikasi de lee,
hanya disini penderita harus mengejan selama 2 jam
3.
Keuntungan
indikasi proflaktif ialah :
a.
Mengurangi
keregangan perineum yang berlebihan
b.
Mengurangi
penekanan kepala pada jalan lahir
c.
Kala
II diperpendek
d.
Mengurangi
bahaya kompresi jalan lahir pada kepala
b. Indikasi
absolut ( mutlak )
1.
Indikasi
ibu :
·
eklampsia,
preeklampsia
·
Ruptura
uteri membakat
·
Ibu
dengan penyakit jantung, paru-paru dll
2.
Indikasi
janin :
·
gawat
janin
3.
Indikasi
waktu :
·
kala
II memanjang
c. Indikasi
kontra
Bila
semua syarat dipenuhi, tidak indikasi kontra.
1.
Janin
sudah lama mati sehingga kepala tidak bulat dan keras lagi, akibatnya kepala
sulit dipegang dengan forsep
2.
Anensefalus
3.
Disproporsi
sefalo-pelvik.
4.
Kepala
masih tinggi (ukuran terbesar kepala belum melewati pintu atas panggul)
5.
Pembukaan
belum lengkap
5. Syarat
Untuk dapat melahirkan janin
dengan ektraksi cunam, harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut
1.
Janin
harus dapat lahir dengan pervaginam ( tidak ada disproporsi sefalopelvik )
2.
Pembukaan
servik sudah lengkap
3.
Kepala
janin sudah cakap ( mencapai letak = sudah terjadi engagement)
4.
Kepala
janin harus dapat dipegang oleh cunam
5.
Janin
hidup
6.
Ketuban
sudah pecah atau dipecah
6. Prosedur
persiapan
1.
Persiapan
untuk ibu
a.
Posisi
ibu litotomi
b.
Rambut
vulva dicukur
c.
Kandung
kemih dan rektum dikosongkan
d.
Desinfeksi
vulva
e.
Infus
bila diperlukan
f.
Narkosis
bila diperlukan
g.
Kain
penutup pembedahan
h.
Gunting
episiotomi
i.
Alat-alat
untuk menjahit robekan jalan lahir
j.
Uterotonika
2.
Persiapan
untuk janin
a.
Alat-alat
pertolongan persalinan
b.
Alat
penghisap lendir
c.
Oksigen
d.
Alat-alat
untuk resusitasi bayi
3.
Persiapan
untuk dokter
a.
Mencuci
tangan
b.
Sarung
tangan suci hama
c.
Baju
operasi suci hama
Sebelum
ekstraksi cunam dikerjakan, penolong harus meneliti secara cermat apakah semua
persiapan tersebut telah lengkap.
Cara
pemasangan cunam
Ditinjau
dari posisi daun cunam terhadap kepala janin dan panggul ibu pada waktu cunam
tersebut dipasang, maka pemasangan cunam dibagi:
1.
|
![]() |
Pemasangan sefalik ( pemasangan biparietal, melintang terhadap kepala ) ialah pemasangan cunam dimana sumbu panjang cunam sesuai dengan diameter mento sampai oksipitalis kepala janin, sehingga daun cunam terpasang secara simetrik dikiri kanan kepala.
2.
Pemasangan
pelvik (
melintang terhadap panggul ), ialah pemasangan cunam diaman sumbu panjang cunam
sesuai dengan sumbu panggul.
Jadi pemasangan cunam yang baik
ialah, bila cunam terpasang biparietal kepala dan melintang panggul. Hal ini
akan terjadi bila kepala janin sudah di PBP dan ubun-ubun kecil berada di
depan, dibawah simpisis oleh karena itu kriteria pemasangan cunam yang sempurna
( ideal ) ialah bila:
a. Sutura sagitalis tegak lurus
dengan bidang tangkai cunam
b. Ubun-ubun kecil terletak 1 jari
di atas bidang tersebut
c. Kedua daun cunam teraba simetris
disamping kepala
![]() |
Pengertian sempurna ( ideal ) disini ialah bila ekstraksi cunam dengan kriteria tersebut dikerjakan akan memberi trauma yang paling minimal untuk ibu maupun janin. Ekstraksi cunam akan menimbulkan trauma berat pada janin, bila ekstraksi cunam dikerjakan dalam posisi daun cunam melintang dalam panggul tetapi miring pada kepala.
a)
|
Ekstraksi cunam terdiri dari 7
langkah yaitu :
1.
Penolong
membayangkan bagaimana cunam akan dipasang
2.
Pemasangan
daun cunam pada kepala janin
3.
Mengunci
sendok cunam
4.
Menilai
hasil pemasangan daun cunam
5.
Eksraksi
cunam percobaan
6.
Ekstraksi
cunam definitif
7.
Membuka
dan melepaskan sendok cunam
Contoh:
Dibawah ini diberikan contoh
ekstraksi cunam pada presentasi belakang kepala, dengan ubun-ubun kecil di
depan, kepala di hodge 4, dengan memakai cunam simpson atau cunam neagele (
outlet forcept, forcept rendah )
1.
Penolong
membayangkan bagaimana cunam akan dipasang
![]() |
Setelah semua persiapan selesai, penolong berdiri di depan vulva sambil memegang kedua pegangan cunam dalam keadaan tertutup dan membayangkan bagaimana posisi cunam akan dipasang. Pemegang cunam dipeganag sedemikian rupa sehingga kedua ibu jari sejajar dengan sumbu cunam
2.
|
Sendok cunam yang akan dipasang
lebih dahulu ialah sendok cunam kiri, karena pada sendok kiri terletak kunci
cunam. Cunam kiri dipegang dengan tangan kiri penolong seperti memegang pensil,
dengan tangakai cunam sejajar lipatan paha depan kanan. Bersamaan dengan itu 4
jari tangan kanan dimasukkan ke dalam vagina. Kemudian daun cunam sendok kiri
dimasukkan ke dalam vagina dan dengan dorongan ibu jari tangan kanan daun cunam
dimasukkan ke dalam jalan lahir, sehingga daun cunam berada setinggi puncak
kepala jadi yang mendorong daun cunam masuk ke dalam jalan lahir ialah ibu jari
tangan yang di dalam bukan di luar .
![]() |
Tangan kanan penolong dikeluarkan dari vagina dan bergantian memegang sendok cunam kanan. Ketiga jari tangan kiri penolong dimasukkan ke dalam vagina antara kepala dan jalan lahir. Cunam kanan dipegang sebagai pemegang pensil dan sejajar lipatan paha depan kiri. Daun cunam kanan sekarang dimasukkan ke dalam vagina dan dengan tutntunan dan dorongan ibu jari tangan kiri daun cunam dimasukkan ke dalam jalan lahir sampai setinggi puncak kepala
3.
![]() |
Mengunci sendok cunam
4.
Menilai
hasil pemasangan daun cunam
Kedua sendok cunam dikaitkan dan
dikunci, kemudian dilakukan periksa dalam ulangan untuk mengetahui apakah daun
cunam telah terpasang dengan benar dan adakah bagian jalan lahir yang terjepit
oleh daun cunam selanjutnya bila periksa dalam ulangan baik, maka dilakukan
traksi percobaan. Maksud traksi percobaan ini ialah untuk mengetahui apakah
daun cunam telah mencekam kepala bayi dengan baik
5.
Ekstraksi
cunam percobaan
Ekstraksi cunam percobaan
dikerjakan dengan cara sebagai berikut.
Tangan kiri dan tangan kanan penolong menggenggam pemegang cunam, sedang jari
telunjuk dan jari tengah kanan penolong diluruskan sampai menyentuh puncak
kepala bila pada waktu traksi dilakukan, kedua jari tetap menyentuh puncak
kepala, berarti kepala ikut tertarik. Bila pada waktu traksi percobaan kepala
janin tidak ikut tertarik, maka berarti daun cunam belum terpasang dengan
benar, sehingga cunam harus dilepaskan dan dipasang lagi. Bila traksi percobaan
ternyata tidak berhasil baik, maka dilakukan traksi definitif
6.
Ekstraksi
cunam definitif
Ekstraksi forcept definitif
dilakukan dengan mencengkam pemegang cunam oleh tangan kiri penolong. Tangan
kanan penolong mencengkam pemegang cunam diatas tangan kiri sambil jari tengah
berada diantara kedua tangkai cunam.
Traksi dilakukan dengan arah
tangkai cunam sesuai dengan sumbu panggul, yaitu cunam ke bawah bila kepala
masih agak tinggi dan mendatar bila kepala di pintu bawah panggul sampai
suboksiput tampak dibawah simpisis
7.
Membuka
dan melepaskan sendok cunam
Segera setelah suboksiput berada
dibawah simpisis cunam dipegang hanya oleh tangan kanan sedang tangan kiri
menahan perineum cunam dielevasi ke atas sehingga kepala melakukan gerakan
defleksi dengan suboksipu sebagam hipomoglion, sehingga berturut-turut lahir
ubun-ubun besar, dahi, mata, hidung, mulut dan dagu. Akhirnya lahirlah sebuah
kepala cunam dilepaskan pada waktu gerakan defleksi ini atau bila kepala sudah
lahir seluruhnya.
Setelah kepala janin lahir,
kepala dibiarka melakukan putaran paksi luar, kemudian badan baru dilahirkan
sebagaimana lazimnya. Tali pusat dipotong dan dirawat bayi baru lahir
diserahkan pada pembantu untuk dibersihkan jalan nafasnya bila ekstraksi cunam
dilakukan dengan narkosis yang cukup dalam, maka plasenta harus dilahirkan
secara manual, dan sekaligus dilakukan ekplorasi jalan lahir untuk mengetahui
adanya robekan jalan lahir
b) Episiotomi
1.
Bila
diperlukan episiotomi pada waktu ekstraksi cunam, maka episiotomi dilakukan
pada saat :
a.
Sebelum
memasang cunam
b.
Kepala
meregang perineum
2.
Bila
hendak melakukan ekstraksi cunam pada primigravida, episiotomi harus
dikerjakan. Sedang pada multigravida, episiotomi dikerjakan hanya bila
diperlukan
c) Ekstraksi
cunam khusus
1.
Ekstraksi
cunam secara lange
a.
Yang
dimaksud dengan ekstraksi cunam secara lange ialah ekstraksi cunam dengan
kepala janin dalm posisi melintang didasar panggul, ubun-ubun kecil melintang
dalam panggul
b.
Cunam
aakan dipasang miring tehadap kepala dan miring terhadap panggul sehingga posisi
cunam tidak simetris terhadap kepala maupun panggul. Ini berarti posisi cunam
akan berada dalam arah depan belakang
c.
Oleh
karena itu didapatkan :
-cunam
depan, yaitu daun cunam yang dipasang di daerah depan ( dibawah simpisis )
-cunam
belakang , yaitu cunam yang dipasang didaerah belakang ( dekat sacrum )
|
d.
Cunam
depan dapat dipasang dengan 2 cara yaitu : -langsung: cunam depan dipasang
langsung didepan
-tidak
langsung ( wandering , gledding ) cunam depan dipasang mulai dari belakang
kemudian diputar ( wandering ) ke arah depan
Contoh ekstraksi cunam lange
dengan ubun-ubun kecil melintang.
1.
Setelah
semua persiapan selesai, penolong berdiri didepan vulva sambil memegang kedua
pemegang cunam yang terkunci dan membayangkan bagaimana posisi cunam akan di
pasang. Dalam hal ini cunam kan dipasang murung terhadap panggul, dengan cunam
kanan sebagai cunam depan dan cunam kiri sebagai cunam belakang. Sendok cunam
depan selalu dipasang lebih dahulu karena pemasangannya lebih sukar
2.
Cunam
depan akan dipasang secara tidak langsung ( wandering , gledding ) cunam kanan
yang akan menjadi cunam depan, dipegang dengan tangan kanan seperti memegang
pensil, sejajar lipatan paha depan kiri. Bersamaan dengan itu 4 jari tangan
kiri dimasukkan ke dalam jalan lahir, disusul dengan dimasukkannnya cunam kanan
3.
Dengan
dorongan dan tuntunan ibu jari tangan kiri daun cunam diletakkan pada sisi
panggul kiri sampai daun cunam berada setinggi kepala. Kemudian daun cunam
diputar ( wandering) ke arah depan kiri, sesuai dengan letak yang dikehendaki
4.
Cunam
yang sudah terpasang dipegang oleh seorang asisten. Bila cunam depan akan
dipasang secara langsung, maka caranya adalah sebagai berikut
5.
Sendok
cunam depan dipegang dengan tangan kanan seperti memegang penggesek biola, dan
sejajar lipatan paha belakang kiri. Cara memasukkan cunam ini sama dengan cara
di atas hanya dalam hal ini memasukkannya akan diarahkan ke atas dibawah
simpisis
6.
Selanjutnya
cunam kiri dipasang sama seperti diregangkan diatas, dan diletakkan di kiri
belakang. Kedua sendok cunam dikunci dengan menyilangkan sendok kanan dibawah sendok
kiri
7.
Dilakukan
periksa dalam ulangan, dan traksi percobaan. Bila hasil periksa dalam ulangan
dan traksi percobaan baik, maka dilakukan traksi definitif.
8.
Traksi
dilakukan bersamaan dengan rotasi agar ubun-ubun kecil berada di depan, di
bawah simfisis. Rotasi dilakukan dengan membuat lingkaran selebar mungkin pada
pemegang cunam, sehingga suboksiput berada dibawah simfisis. Kemudian kepala
dilahirkan seperti telah diterangkan di atas.
2.
Ekstraksi
cunam secara scanzoni
a.
Yang
dimaksud dengan ekstraksi cunam secara scanzoni ialah ekstraksi cunam dengan
ubun-ubun kecil berada di belakang dekat sakrum. Pada ekstraksi cunam,
tindakannya terdiri dari 2 tahap yaitu:
·
Memutar
kepala ke depan sehingga ubun-ubun terletak melintang.
·
Setelah
kepala dalam posisi melintang, ekstraksi cunam dilakukan secara lange.
b.
Cunam
akan dipasang melintang terhadap kepala dan miring terhadap panggul. Pasangan
cunam sama dengan keterangan di atas. Setelah periksa dalam ulangan dan traksi
percobaan baik, lakukan rotasi sehingga ubun-ubun kecil lahir. Cunam dilepaskan
dan dikeluarkan jalan lahir. Cara melepaskannya ialah cunam yang dipasang lebih
dahulu dilepaskan terakhir. Kemudian setelah kepala berada dalam posisi
melintang, kepala dilahirkan dengan ekstraksi cunam secara lange, sebagaimana
telah diterangkan diatas.
3.
Pada
presentasi dahi dan muka
Pada
presentasi dahi dan muka, kita baru boleh melakukan ekstraksi forsep jika
kepala sudah cukup turun memasuki panggul dan posisi dagu janin di depan.
Apabila kepala masih tinggi dan dalam posisi mento-posterior, pemasangan daun
forsep amat sulit dilakukan karena ruang panggul
![]() |
sempit. Dalam hal demikian, penyelesaian partus yang terbaik adalah dengan seksio sesarea.
4.
|
Pada
letak sungsang ada beberapa pendapat penggunaan forsep yakni:
1.
Biasanya
dipakai forsep piper karena memiliki lengkungan kepala dan
lengkungan perineum. Sebelum pemasangan forsep, kaki janin di tarik sampai
kepala memasuki panggul.
Cara pemasangan forsep
a.
Kedua
kaki janin diangkat ke atas ke arah perut ibu supaya dada janin tidak
menghalangi pemasangan forsep. Lebih baik lagi, badan janin dibalut kain steril
serta diangkat ke atas.
b.
Barulah
dimasukkan daun-daun forsep secara melintang terhadap panggul dan kepala
(biparietal)
c.
![]() |
Lakukan traksi menurut arah jalan lahir boleh pula seorang asisten mendorong kepala janin dari simfisis pubis.
2.
Cara
kedua juga menggunakan forsep piper
1.
karena
cunam atau forsep piper dibuat khusus untuk melahirkan kepala janin pada letak
sungsang, sehingga mempunyai bentuk khusus, yaitu:
a.
Daun
cunam berfenestra, yang mepunyai lengkungan panggul yang agak mendatar (baik
pemasangan yang tinggi)
b.
Tangkainya
panjang, melengkung ke atas dan terbuka, keadaan ini dapat menghindari kompresi
yang berlebihan pada kepala janin.
2.
Seorang
asisten memegang badan janin pada kedua kaki, dan kedua lengan janin diletakkan
dipunggung janin. Kemudian badan janin dielevasi ke atas, sehingga punggung
janin mendekati punggung ibu.
3.
![]() |
Pemasangan cunam pada after coming head tekniknya sama dengan pemasangan cunam pada letak belakang kepala. Hanya pada kasus ini cunam di masukkan dari ara bawah, yaitu sejajar dengan pelipatan paha belakang. Setelah suboksiput tampak dibawah simfisis, maka cunam dielevasi ke atas dan dengan suboksiput sebagai hipomoklion, berturut-turut lahir dagu, mulut, muka, dahi dan akhirnya seluruh kepala lahir.
7. Ekstraksi
cunam percobaan (trial forceps)
Ekstraksi
cunam yang sebelumnya sudah didasari oleh penelong, bahwa kemungkinan ada
disproporsi sefalo-pelvik ringan. Traksi dilakukan dengan tenaga adekuat, yaitu
dengan hanya memakai tenaga otot-otot biseps. Bila dengan 3 kali traksi
ternyata janin tidak dapat dilahirkan, maka ekstraksi cunam percobaan dianggap
gagal dan janin harus dilahirkan perabdominam.
8. Ekstraksi
cunam gagal (failed forceps)
Forsep atau cunam dikatakan gagal
apabila:
1.
Cunam
sulit dipasang
2.
Cunam
tidak dapat dikunci
3.
Kepala
tidak maju sesudah dilakukan traksi dengan tenaga yang sedang.
4.
Rotasi
(putar paksi dalam) kepala tidak terjadi sewaktu traksi
Cunam percobaan yang
gagal disebut failed forceps. Forsep
percobaan disebut berhasil jika dengan tarikan berkekuatan sedang, dapat
terjadi rotasi kepala dan kepala makin turun.
9. Komplikasi
Ibu
1.
Perdarahan:
akibat atonia uteri atau trauma jalan lahir
2.
Trauma
jalan lahir:
a) Trauma pada jaringan lunak:
·
Mulai
robekan vagina sampai rupture uteri
b) Trauma pada tulang-tulang
·
Simfisiolosis
·
Fraktur
os koksigis
3.
Infeksi
pasca persalinan
janin
1.
Luka
pada kulit kepala
2.
Paralisis
nervus VII
3.
Fraktur
tulang tengkorak
4.
Perdarahan
intrakranial
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Ekstraksi vakum adalah suatu
persalinan buatan dimana janin dilahirkan secara ekstraksi dengan ekstraksi
tenaga negatif ( vakum ) pada kepalanya. Alat ini dinamakan ekstraktor vakum
atau ventouse.
Sedangkan cunam adalah Suatu
persalinan buatan dimana janin di lahirkan dengan suatu tarikan cunam yang di
pasang pada kepalanya.
Pemakaian fakum dan cunam memiliki dampak positif
dan negatif terhadap ibu dan janin, dan prosedurnya juga harus hadir faktor
indikasi mengapa prosedur ini harus dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA
Dr.
Sofian, Amru. Sinopsis obstetri. PT buku kedokteran EGC: jakarta. 2013
Harjono
M, kian LS. Beberapa pandangan tentang vakum ekstraktor dengan laporan
sementara mengenai beberapa kasus. Maj kedoktr indonesia, 1963.


![image_thumb[8].png](file:///C:\Users\student\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image006.gif)
![clip_image002[14]_thumb.gif](file:///C:\Users\student\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image007.gif)
![clip_image002[18]_thumb.gif](file:///C:\Users\student\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image009.gif)
![clip_image002[4]_thumb.jpg](file:///C:\Users\student\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image011.jpg)

![Presentation1_thumb[1].jpg](file:///C:\Users\student\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image016.jpg)










Tidak ada komentar:
Posting Komentar