Minggu, 11 Oktober 2015

seorang teman

udah beberapa kali ku delet tulisanku, jadi bingung mau nulis apa?, sampai pada puncak renunganku hingga kuteringat seorang teman. teman menurutku adalah hal pertama dalam hidup, karena keluarga adalah teman peratama dalam kehidupan. tapi kali ini bukan tentang keluarga, yakni seorang teman.
tapi apa kalian tahu apa itu teman?
banyak yang bilang kalau teman adalah sebuah tempat yang bisa menerima curahan hati, atau kata lain tempat sampah. ets.. jangan marah dulu teman, teman juga merupakan pahlawan di kehidupanmu, 
contohnya: orang yang nyelametin kamu saat gak dikirim orang tua, orang yang mau nerima semua cerita tentang kejahatan-kejahatan pacarmu, dan ku bisa bilang kepada seluruh temanku "dan sebagainya".
temanku yang satu ini naik tingkat menjadi sahabat, orangnya baik, pinter, dan Tuhan masih memberikan bonus padanya, yaitu bonus tampan, ya meski tak setampan nabi Yusuf, tapi mukanya masih termasuk katagori tampan. ada satu kesalahan yang gak bisa aku lupakan, menurutku pacaran dengan teman ataupun sahabat adalah suatu kesalahan, memang sih sebelum menjadi pacar harus berteman untuk menganal satu sama lain. ketika sahabat berubah jadi pacar maka mengalami segudang perubahan yang harus diperhatikan, mulanya yang memanggil namanya berubah jadi ayang ayangan, papi mami, ayah bunda, papa mama. mungkin awalnya baik-baik saja, tapi ketika dihubungan yang dijalani mengalami kecelakaan di tengah jalan, dan harus kandas dibelokan.
jika pasanganmu tadi atau lebih pantas dibilang mantan pacarmu tadi akan kembali ke kehidupan pertama hubungan (berteman) maka kita fine-fine aja, tapi itu hal yang mustahil karena dari perubahan status tadi akan mengalami geseran yang sangat jauh. ya meski dia bilang "kita bersahabat lagi", persahabatan itu tidak seperti persahabatan sebelum kita jadian, karena kita sudah malu untuk menceritakan hal-hal yang dialami. 

1 komentar:

  1. teman itu seperti tangan aku adalah teman sejatiku, di saat aku lapar dia memberikan aku makan dan mata aku juga sahabat aku, di saat aku sedih dia menagis dan tangan menghapus dan mengusap air mata itu, dan telinga dia membatu aku untuk mendengar dan memberi tahu aku dan kaki di saat aku mau berjalan di siap mengatar aku kemana aku pergi, begitu lah sahabat sejati hidup.

    BalasHapus